Belajar Casting ( perjalanan pulkam 2 )

Sampai di Sanggau udah jam 2 siang, Istirahat sejenak menghilangkan penat yang mendera. karena ini untuk pertama kalinya aku nekad pulkam sekeluarga menggunakan sepeda motor. Biasanya, Isteri dan anak-anakku pake Bis atau carter taxi. Aku menggeber si Meggy kesayanganku, hadiah dari bokab... hehehehehehe... 

 Jam 3 sore, istriku mengajak ke Dusun Setompa', di sungai sekayam. Silaturrahmi ke Abang Jukin. Aku lantas kepikiran untuk mancing di Sungai Sekayam. namun karena aku lagi demen-demennya casting, akhirnya aku menelpon saudara sepupuku yang juga baru belajar casting untuk sore ini lempar-lempar lure di sungai bongkok.
Sayaf In Action

Setelah pasukan kuantar ke setompa', aku langsung ngacir ke Tanjung Kapuas, perbatasan kelurahan dengan kelurahan Sungai Bongkok, tepatnya di belakan Kantor PU. Cuaca mendung, jadi asik-asik aja aku ngelempar lure. Setengah jam kemudian, Syaf sepupuku datang. Langsung beraksi melepar lure ke sana kemari, Sama sepertiku tadi,. Nihil. Jam 5 kami pulang, setelah tadi mematangkan rencana untuk explore ke danau di Kampung setanding, belakan kampungku, Desa Sungai Muntik.

Danau Rumpang
Besoknya, Sabtu, aku dapet konfirmasi dari sepupuku Jamil kalau ia berhalangan untuk ikut trip ke Danau Rumpang di Dusun Setanding. Begitu juga Syaf, ada tugas mendadak. Yah, apa boleh buat. Kami sekeluargapun berangkat ke Dusun balai Nanga sekitar jam 9 pagi. Sampai di balai Nanga, aku langsung sungkem ke Ibu mertuaku yang sedang sakit. Alhamdulillah, kondisinya sudah agak baikan. Setelah istirahat sambil ngobrol bareng keluarga. Jam 10 pagi aku berangkat ke Danau Tawang Belimbing.

Lewat jembatan hilir kampung, aku dihadang Ayus. Karena melihat perlengkapan tempurku, Ayus jadi kepengen ikut. Kebetulan aku memang menyiapkan 3 set piranti, maklum pemula. maksudku mau ngetes, setelan mana yang pas dan enak buat di tangan. Tanpa ba bi bu lagi ayus langsung nangkring di belakangku.

Ayus Penasaran... hahahahahaha..
Sampai di tawang belimbing, aku dan Ayus langsung beraksi. Sayang, aku baru punya satu Tiny Frog yang kayaknya memang pas buat spot seperti di situ. Penuh rumput dan tanaman air, walaupun tempat terbuka cukup luas, namun menurut para suhu Castinger, si Gabby ini jarang berada di tempat terbuka, senangnya berdiam di bawah atau di dekat tanaman air. Jadi umpan Tiny Frog kurasa pas untuk kondisi seperti ini.

Beberapa kali lempar kodok/si tiny, ada juga gabus yang nyengol, kayaknya gabusnya kecil. Jadi susah untuk hook up. Setelah lemparenku ku rubah agak ke tepi, menyisir rumput dan tumbuhan air, Barulah hook up sempurna. Seekor Gabus berhasil kunaikkan. Si Ayus makin bersemangat karena melihat kerakusan si gabus.

Danau Tawang Belimbing
Sampi jam 12 siang kami udah berpindah 3 tempat, namun ngga ada lagi strike. Mungkin kesiangan barangkali. Akhirnya kami pulang dengan haus yang ngga terhingga karena aku lupa bawa bekal air mineral. Mau nenggak air tawang belimbing ngga mungkin, karena tawang itu juga merupakan tempat si BULDOZER mandi mandi... hiiiii geliiiii.

Kesesokan harinya, Minggu. Pagi-pagi aku udah ngacir ke Tawang Belimbing. Karena menurut Wa Ansyah, si gabus suka nongol dan sarapan pagi-pagi. Lagian hari itu ada perayaan Maulid Nabi sekaligus acara guntinga rambut untuk anak-anak balita yang pelaksanaannya sekitar jam 9 pagi. Ku fikir, apa salahnya pagi-pagi aku casting dulu, nanti jam 9 baru ke masjid.

Titik mocelnya si mama gabby
Karen kemarin si Ayus udah menyatakan ngga ikut karena sibuk jadi panitia, akhirnya aku hanya bawa satu joran dan dua rell untuk persiapan. Kali ini aku langsung menuju titik dimana kemaren sempet mocel. Bebrapa kali lempar, akhirnya kulihat si kodok tenggelam disambar dari dalam air. kupastikan ini ulah si gabus. Aku mengetak ringan joranku. Tiba-tiba tali di tarik kuat dari dalam air. Aku konsentrasi penuh. Setelah drag kuterikkan perlahan... baru satu kali uncal... yahhh... Gabbynya kabur. 

Berkali-kali kulempar kodok ke berbagai arah, nihil. Akhirnya aku megganti si kodok dengan lure warna orange kekuningan. dua kali lempar langsung strike. Gabus kecil mendarat manis. Sampai hampir jam 9, ngga ada lagi senggolan. Kuputuskan untuk menyudahi trip kali ini dengan membawa dendam, karena tadi sempat mocel...

Buan lagi setting piranti
Acara Maulid Nabi di Masjid selesai jam 11 siang. Tanganku kembali gatal lagi untuk lempar lempar lure. Kali ini, Padong Sungai Bunut menjadi incaranku. Karena menurut beberapa temanku, disana masih ada toman dan orang kampung jarang ke sana, konon angker. Aku bermaksud mengajak Abo Tya, sepupu isteriku untuk survei ke sana. Eh, Beliau malah udah turun mancing udang. Akhirnya si Buan, anak nomor 2 Abo Tya mau mengantarku ke sana, Buan juga penasaran seperti apa mancing pake kodok plastik. Kujelaskan bahwa aku bukan profesional seperti orang-orang yg nampil di mancing mania atau di mata pancing. Aku angler kampungan yang pengen ngerasakan sensasi menipu ikan, itu saja. Kebetulan pula aku belum pernah ke Padong Sungai Bunut jadi itung-itung sekalian jalan-jalan ujarku. Si Buan mengiyakan.

Padong Sungai Bunut
Sampai di spot, ternyata spotnya udah ketutup sama pohon Jonger dan Tirap. Hanya ada bebrapa tempat yang kelihatan airnya. Aku ngga bisa lempar lure. Kami bergerak menyisir Padong yang sebetulnya merupakan rawa rawa. Dulu kata Buan, tempat ini bersih karena ada bebrapa orang yang sering memasang pukat. Namun sekarang udah ngga terawat. Aku hanya melepar lure bebepa kali, untuk sekedar menyalurkan hasrat. Pada lemaparn ke tiga, si tiny frog di bawa kabur ke bawah air. Satu kali getak, mocel lagi. Aku jadi kembali bersemangat. Sayang setelah berkali-kali lempar, si gabus ngumpet entah kemana. Setelah puas berkeliling, akhirnya kami pulang dengan tangan hampa. Tak apa fikirku, di lain kesempatan aku datang lagi.

Nis Juni, Angler sekaligus Motoris
Jam 3 sore, saat lagi asik ngopi sambil melepaspenat dan ngobrol bareng Buan di teras, nis Juni nongol, mengajakku casting Lais tebiring di hulu kampung. Duhh.... capek belum hilang... udah mau trip lagi. Aku ngga bisa lagi menolak setelah Nis Juni menjemputku dengan motor tempelnya. Kami mulai Trolling dari hulu kampung. karena aku cuman punya satu Popper dan lure belum banyak yang aneh-aneh, akhirnya troling kami sudahi. Nis juni menujuk satu titik dimana kalau pagi-pagi si lais tebiring sering terlihat berloncatan mengejar ikan kecil. Kamipun bertambat di sana dan mencoba berbagai lure yang ada. Nihil.

Nis mengganti lure
Jam 4 sore kami beranjak ke seberang, bertambat pada sebuah pohon mati yang tumbang ke kapuas. Nis Juni setia dengan soft lure, sementara aku mecoba berbagai umpan, lempar sana-lempar sini. Juga nihil. Hampir jam 5 sore kami memutuskan pulang. Dalam perjalanan pulang aku menujuk Muara Sungai Engkuli, tempak aku dulu biasa memancing Udang Galah. Tanpa di sangka Nis Juni membelokkan haluan motor tempel dan mauk kedalam sungai. Setelah nis mematikan mesin tempelnya, kami berdua kembali beraksi.

Kapuas di hulu Balai Nanga
Setelah bebrapa kali lempar tanpa ada reaksi, kami masuk lebih jauh ke dalam. Aku mengganti lure dengan tipe crank bait, si ikan pendek warna cokelat  yang pandai menirukan goyang si Dewi Persik.... hahahahahahah. Dua kali uncal rell... tiba-tiba terasa ada yangg menarik dari dalam air. Spontan ku getak... dan... mocel. Semangat kami berdua kembali naik, Sayang hingga hamir jam 6 ngga ada lagi yang mau menyambar lure. Kami pun pulang setelah terlebih dahulu aku foto-foto spot. Ngga ada foto ikan hasil cating, foto spot jadilah fikirku.

Dalam perlajanan pulang, aku udah ngga bisa lagi menanggapi obrolan Nis juni. Aku terlelap di haluan Motor tempelnya, kelelahan. Bayangkan, dalam satu hari, aku mancing di 3 spot berbeda. Sadar ngga sadar udah sampai di kampung. Malamnya, setelah sholat Isya berjamaah bersama Abang Ipar sekeluarga, aku tertidur pulas di depan televisi sampe pagi...

"MANCING NGGA MANCING, YANG PENTING MANCING"

1 comment:

  1. menarik banget, kalo d kunjungin spotnya berkali2 pasti dapet apa yang di harapkan,seruuuu...

    ReplyDelete

Makasih udah mampir dan kasih komentar ....