Belajar Casting ( perjalanan pulkam 1 )

Rencana semula, cuman aku sendiri yang pulkam berhubung ada urusan keluarga. berangkat jum'at sore,  balik lagi hari Minggu. Malah udah ku atur sedemikian rupa agar bisa balik pagi minggunya sehingga aku bisa mampir sebentar ke kota T untuk menjajal sungai di sana. Segalanya jadi berubah ketika nyoya rumah mengutarakan keinginannya untuk turut serta. Daripada terjadi hal-hal yang tidak diinginkan... hehehehehe... akhirnya aku mengiyakan saja dengan syarat, kalo di jalan, terutama di jalan trans Kalimantan, ketemu parit gede yang airnya lumayan banyak, kita mampir dulu, aku mau test lure forgy yang baru ku beli.
Sebelum berangkat, aku nelpon kedua sepupuku yang juga mulai keracunan casting, Jml dan Cpg yang notabene adalah sama-sama pemula sepertiku di dunia casting. Kami biasa mancing, hoby mancing... tapi mancing dasaran. Umpan pake cacing dan sebagainya. Baru beberapa bulan terakhir kami belajar casting dengan umpan buatan. Kami merencanakan trip di seputaran kampung halaman yang menurut Jml masih banyak gabusnya. Sukur-sukur si Toman ngamuk oleh keributan poper yg kami lemparkan. Apa daya, kita cuma bisa bikin rencana, yang nentuin yg di atas sana. Dikarenakan sesuatu dan lain hal, Jml ngga bisa ikut, begitu juga Cpg, masih belum bisa memberikan kepastian. Yah...

Jumat pagi, kami sekeluarga berangkat, kebetulan pake motor bebek, jadi cukup bawa satu tas, taruh di depan dan Annisa duduk di atasnya. sementara Joran dipanggul nyonyah, reel serta perlengkapan lainnya cukup satu tas kecil. Sampai di jalan trans Kalimantan aku udah ngga bisa nahan diri lagi melihat parit lebar dengan air kehitaman, khas air rawa Kalimantan yang banyak dihuni spesies ikan air tawar seperti gabus, toman, sepat, betok dan sebagainya. Kami singgah di dekat sebuat kios bensin. Isteriku mengeluarkan bekal nasi plus indomie karena si Zhiea (si bungsu) merengek minta makan. Tanpa ba bi bu lagi aku langsung setting piranti castingku, kebetulan mau test joran dan lure froggy baru. Setelah beberapa kali lempar, ngga ada yang nyambar. Aku ganti pake poper, ganti lagi pake minnow warna orange... nihil.

Karena si Zhia udah selesai makan, akhirnya akupun buru-buru mengemas peralatan castingku. Kami berangkat lagi. Baru kira-kira bebrapa ratus meter, kami singga di warung kecil tepi jalan, bermaksud membeli air mineral buat persediaan. Saat isteri dan anak-anakku mampir ke warung, aku menyeberangi jalan untuk melihat-lihat keadaan air parit, siapa tau bisa buat lempar lure lagi. Eh, ternyata banyak anak gabus, ini berarti ibunya gabus pasti ada di sekitar situ. Biasanya ortu si gabus ini kalo lagi ngawal anaknya galak amat, apa aja yg lewat didekatnya pasti disambarnya. Kesempatan ini ngga aku sia-siakan. Tanpa memperdulikan teriakan anak-anaku, aku kembali setting piranti dan melempar umpan froggy, benar saja, langsung disambarnya. Sayang tidak mengena. Umpan aku ganti dengan popper kecil berwarna merah putih, kontras sekali dengan warna air yang hitam pekat, biar gabusnya makin meradang fikirku. Baru saja popper menyentuh air, langsung disambar sama si gabus yang lagi ngamuk. karena ukurannya paling segede pergelangan tangan anakku, dengan sekali sentak, si gabus udah melambung dan terjengkang di aspal mulus jalan trans Kalimantan.

Anakku berteriak kegirangan. Setelah foto-foto, buat nanti kupamerkan ke rekan sesama castingers, akhirnya gabus itu kami berikan ke pemilik warung tempat tadi isteriku membeli air mineral dan makanan kecil. Dia berterima kasih sekali, sambil tak sudah-sudah bertanya mengenai si popper Battle-Ax kesayanganku. katanya dia dan rekan-rekannya udah memasang beberapa tajur di situ, ngga ditoleh sama sekali oleh si gabus, Eh, sama kayu dicat warna bendera malah nyangkut.

Capek deh... ntar lanjut lagi ke bagian kedua... 

2 comments:

Makasih udah mampir dan kasih komentar ....